RAHASIA HIDAYAH

Posted: Agustus 14, 2011 in MUHASABAH

http://www.dakwatuna.com/2010/rahasia-hidayah/

dakwatuna.com – Hidayah artinya petunjuk. Dan Allah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk, Allah berfirman di pembukaan surah Al Baqarah: dzaalikal kitaabu laa raiba fiih, hudal lilmuttaqiin ( inilah al kitab – Al Qur’an- yang tiada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa). Dari ayat ini kita paham bahwa untuk mendapatkan hidayah Al Qur’an secara utuh, syaratnya harus bertaqwa. Bahwa banyak orang yang mengaku beriman  kepada Al Qur’an, tetapi belum mendapatkan hidayahnya. Bahwa tidak semua orang Islam patuh kepada tuntunan Al Qur’an. Perhatikan berapa banyak dari umat ini yang melanggar dengan sengaja apa yang diharamkan dalam Al Qur’an. Berapa banyak yang dengan tanpa merasa berdosa, mereka berani membuka aurat, berzina, korupsi, makan harta riba, padahal mereka secara ritual menegakkan shalat, pergi haji, dan melaksanakan puasa Ramadhan.

Lebih jauh, banyak dari para anak yang berani kepada orang tuanya, menyakiti hati ibunya, padahal tuntunan mencintai orang tua dan  mengabdi kepada mereka, adalah tuntunan yang sudah lama Allah turunkan. Semua nabi yang Allah utus diperintahkan untuk menyampaikan hal tersebut. Al Qur’an sangat jelas menceritakan syariah ini. Tidak ada keraguan di dalamnya bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua adalah sebuah keniscayaan. Tetapi sayang syariah ini telah banyak diabaikan. Berapa banyak orang tua yang terlantar atau sengaja ditelantarkan dengan alasan mengejar harta. Kesibukan telah membuat para anak mencari alasan untuk menghindar dari kewajiban membantu orang tua. Lebih pahttp://ms22.wordpress.com/wp-admin/post.php?post=159&action=edit#edit_timestamprah, bahwa seringkali orang tua disakiti hatinya, ditunggu harta warisannya, dan dipercepat kematiannya. Padahal para anak itu secara ritual rajin shalat dan rajin melaksanakan ibadah-ibadah lainnya. Di manakah hidayah dalam hatinya.

Banyak juga dari orang tua yang hanya sibuk mendidik anak-anak mereka untuk urusan mencari makan. Sementara untuk urusan agamanya diabaikan. Akibatnya banyak anak muda yang kini berhasil secara duniawi, sementara mereka secara akhirat, sangat minim bekalnya. Mereka tidak tahu cara mengisi waktunya. Shalat ditegakkan secara formalitas, sementara di saat yang sama mereka bergaul bebas, dengan tanpa merasa berdosa. Tidak sedikit dari mereka yang terbiasa berzina. Dan itu dianggap sah-sah saja. Pun sudah banyak buktinya dari mereka yang hamil dan punya anak di luar nikah. Para orang tua mereka di saat yang sama orang-orang yang taat beribadah. Dalam kondisi seperti ini, kita bertanya, di manakah peran hidayah Al Qur’an yang mereka yakini? Apa arti pengakuan beriman kepada Al Qur’an, bila ternyata secara terang-terangan ajaran Al Qur’an di abaikan? Apakah cukup hidayah Al Qur’an, diartikan sebatas kepatuhan ritual saja, sementara secara moral sangat bejat?

Bila dilacak lebih jauh, ternyata banyak dari para koruptor, adalah orang-orang yang mengaku beriman kepada Al Qur’an. Demikian juga tidak sedikit dari para pelacur yang memakai jilbab dan mengaku sebagai seorang muslim. Ketika ditegur, mereka menjawab: inilah jalan yang bisa dilakukan untuk hidup. Bukan hanya itu, sogok-menyogok juga dianggap jalan halal untuk mendapatkan penghasilan. Lebih parah lagi, perampokan, pencurian, melakukan sistem riba dan lain sebagainya, sengaja mereka lakukan demi untuk mendapatkan tambahan income. Dan ini semua dianggap lumrah dan boleh-boleh saja. Padahal di dalam Al Qur’an dan As sunnah itu semua jelas diharamkan.

Bandingkan dengan kondisi para sahabat ketika mereka mengambil hidayah ini. Seketika mereka langsung mengambilnya secara utuh. Mereka menerima Al Qur’an secara maksimal, tidak main tebang pilih. Ketika datang perintah shalat mereka langsung menegakkannya secara maksimal. Ketika turun larangan minum khamer, mereka seketika segera meninggalkannya. Sampai dikatakan bahwa pada saat itu kota Madinah banjir khamer. Karenanya mereka berkah, sebagaimana berkahnya Al Qur’an. Mengapa? Karena mereka benar-benar mengambil Al Qur’an secara lengkap, tidak sebagian-sebagian. Dari sini jelas bahwa tidak akan berkah suatu umat yang hanya mengambil Al Qur’an sepenggal-sepenggal. Perhatikan apa yang telah dicapai para sahabat, sebagai bukti keberkahan. Mereka telah berhasil membangun peradaban yang indah dan menyelamatkan kemanusiaan, belum pernah sebelum atau sesudahnya ada kaum yang bisa membangun peradaban yang sama. Padahal jumlah mereka sangat sedikit, dibanding dengan jumlah umat Islam saat ini.

Kini kita sangat butuh cara mengambil hidayah Allah seperti apa yang telah diperbuat oleh para sahabat. Hidayah yang mengantarkan agar manusia benar-benar kenal siapa Tuhan mereka. Hidayah agar orang-orang beriman tidak menjadi umat yang pasif, melainkan umat yang bergerak dengan penuh keseimbangan (tawazun): seimbang antara ritual dan sosial, pun seimbang antara dunia dan akhirat. Hidayah agar umat ini benar-benar mengambil ajaran Allah secara utuh dan maksimal bukan sepenggal-sepenggal. Sungguh rahasia keberkahan umat ini adalah ketika mereka mengambil hidayah Allah secara komprehensif. Inilah langkah yang harus kita buktikan. Wallahu a’lam bish shawab.

Mungkin ini episode kehidupan seseorang, yang sangat jarang ditemui, ketika kehidupan sudah banyak berubah. Berubah dikarenakan sifat-sifat manusia sendiri. Mereka tidak dapat menemukan kehidupan yang sebenarnya.

Manusia menjadi hamba atas dirinya, dan nafsu tidak dapat memuliakan manusia. Mengapa banyak diantara manusia memilih nafsu, yang melandasi kehidupannya? Tapi, di tengah-tengah kepekatan kehidupan dunia, masih ada orang-orang yang menjadi teladan dalam kehidupan ini. Kisah ini akan dapat memberikan percikan air, bagi yang dahaga akan kemuliaan.

Muhammad bin Ka’ab al-Quradhi, mengisahkan kehidupan Amirul Mu’minin, Umar bin Abdul Aziz, yang sesudah menjadi Khalifah menjadi asing dan aneh. Sebuah penuturan yang sangat menyentuh hati, bagi yang masih mempunyai rasa, dan Ka’ab mengisahkannya.

“ Sekali waktu saya menemui Umar bin Abdul Aziz setelah diangkat menjadi Khalifah. Sungguh. Kiranya tubuhnya sudah sangat menjadi kurus. Rambutnya telah memutih. Raut mukanya sudah jauh berbeda dengan sebelumnya. Padahal, dahulu sewaktu Umar menjadi Gubernur di Madinah, Umar adalah seorang yang sangat tampan dan badannya berisi …”

Kemudian, ketatap wajahnya lama sekali, sehingga ia bertanya kepadaku :

“Wahai Ibnu Ka’ab, apa yang menyebabkan anda menatapku seperti itu, padahal dulu anda tidak pernah berbuat demikian?”, tanya Umar. “Saya sangat heran, wahai Amirul Mu’minin!”, jawab Ka’ab. “Apa yang mengherankanmu?”, tanya Umar lagi. “Perubahan diri Amirul Mu’minin. Badan Amirul Mu’minin menjadi kurus, rambut memutih, raut wajah yang memucat. Kemana keindahan diri Amirul Mu’minin yang sangat mempesona dulu? Rambut hitam lebat, tubuh nampak gagah, dan subur”, tambah Ka’ab. Tapi, segala sirna keindahan yang dimiliki Umar bin Abdul Aziz, ketika menjadi Khalifah.

Lalu, Umar menjawab semua pertanyaan Ka’ab itu dengan mengatakan : “Engkau akan lebih heran lagi, bila melihat diriku nanti s etelah terkubur dalam tanah. Mataku akan copot dari tempatnya, dan ulat-ulat akan berkeliaran di mulut dan tenggorokanku”, ujar Umar.

Ya. Wajah yang tampan dan tubuh yang gagah perkasa itu telah berubah, karena deraan tanggung jawabnya yang besar. Suatu hari, di awal masa jabatannya sebagai Khalifah, dipangilnya istrinya, Fatimah, wanita mulia putri seorang Khalifah, yang sangat jelita itu, lalu dihadapkan pada kenyataan yang harus mereka hadapi. Dengan lemah lembut, disampaikan oleh Umar kepada Fatimah, bahwa seorang suami, Umar sudah tidak ada harganya lagi. Beban yang harus dipikulnya sangat berat, sehingga tidak ada lagi waktu yang tersisa untuk keperluan-keperluan lainnya.

Dan, Umar menyerahkan kepada Fatimah sepenuhnya hak untuk memilih jalan hidup dan menentukan dirinya..

Tapi, Fatimah, namanya yang terukir dengan gemerlapan sepanjang sejarah, memilih tetap menemani Umar, sampai ajal menjemputnya. Fatimah selalu mendampingi Umar, meskipun sangat terasa berat dalam memasuki kehidupan ini. Fatimah sama sekali tak pernah mengeluh, tatkala perutnya kelaparan, meskpun Fatimah, istri seorang Khalifah Umar ibn Abdul Aziz. Dan, Fatimah hanya mengatakan : “Alangkah bedanya kehidupan kami sebelum dan sesuah menjadi Khalifah, bagaikan timur dengan barat”, ujarnya. “Demi Allah, kami belum pernah menikmati kegembiraan setelah kami menduduki jabatan ini ..”, tambahnya. Kini, lenyaplah sudah segalanya dari sisi permaisuri ini.

Padahal, sebelumya ia adalah seorang puteri Khalifah dan merupakan saudara Khalifah, yang segala kenikmatan hidup tersedia baginya. Sutera yang sangat halus dan indah, intan permata, emas dan perak, serta harta kekayaan lainnya. Kini, yang dimiliki Fatimah, tinggal dua lembar baju kasar. Karena, Umar bin Abdul Aziz telah menyuruh semua kekayaannya dijual, termasuk kekayaan isterinya, kekayaan anak-anaknya. Semua uang hasil penjualan kekayaannya itu diserahkan kepada Baitul Mal milik kaum muslimin.

Kini, Fatimah dan Umar, berdua, hanya makan roti kering yang hanya diolesi minyak atau dicampur dengan sedikit bumbu. Hingga, Fatimah yang mulanya sangat cantik itu, berubah menjadi wanita yang pucat dan lunglai ..!

Sekali waktu, Amirul Mu’minin masuk ke dalam kamarnya. Di dapatinya Fatimah sedang menambal pakaiannya, yang usang sambil duduk bersimpuh diatas tikar. Dipegangnya pundak istrinya Fatimah, seraya Umar berguarau : “Fatimah. Alangkah nikmatnya malam-malam yang kita lalui di Dabiq (Istana) dulu, jauh lebih menyenangkan dari malam-malam seperti sekarang ini”, ucap Umar. Maksudnya, kehidupan mereka berdua sebelum menjadi Khalifah.

Lalu, Fatimah menjawab : “Demi Allah, padahal waktu itu, kanda (Khalifah Umar) tidak lebih mampu dari waktu sekarang ini”, ucap Fatimah. Mendengar ucapan istrinya, Fatimah, kemudian wajah Umar pun menjadi muram, airmatanya pun mengalir deras. Umar sadar bahwa senda guraunya telah melewati batas. Kemudian, Umar : “Wahai Fatimah. Aku takut terhadap siksa Rabbku, jika mendurhakia-Nya,yakni di suatu hari yang amat dahsyat siksanya”, ungkap Umar kepada istrinya Fatimah.

Dan, tak lama, Fatimah telah terbiasa dan menyenangi kehidupan yang dipilih oleh suaminya Umar untuk dirinya dan seluruh keluarganya. Dan, Fatimah menghayatinya dengan setia dan penuh cinta. Sampai keduanya dipisahkan oleh kematiannya. Wallahu ‘alam.

Sumber: www.eramuslim.com

USAHA DAN DOA

Posted: Desember 22, 2009 in Motivasi, OPTIMIS
Tag:

Rasanya tak ada yang bermakna untuk menggapai sesuatu tanpa sebuah proses yang panjang terlebih dahulu. usaha adalah cara yang paling ampuh untuk meraih sesuatu yang dicita-citakan dan doa adalah senjata yang paling dahsyat untuk memantapkan usaha kita. Ya.. di antara keduanya, tak ada jarak yang jauh untuk sebuah alasan tidak melakukannya. Namun terkadang sebagian orang mengangap bahwa usaha pun sudah cukup untuk meraih sesuatu yang dicita-citakan. di sisi lain sebagian orang juga berpendapat sebaliknya, bahwa cukup doalah yang akan mampu menjawabnya. kekuatanpun difokuskan ke sana mereka yang selalu menganggap usaha selalu menjadi cara yang paling ampuh selalu melakukan upaya keras untuk mewujudkan keinginannya, sehingga ketika berada dititik di mana apa yang diinginkan tidak tercapai maka kekecewaanpun akhirnya menjadi satu sikap yang sering melanda orang-orang seperti itu dan berujung pada “frustasi”. Sebaliknya mereka yang selalu berdoa tanpa usaha sedikit pun juga pada titik di mana apa yang diharapkan tidak tercapai maka kejenuhan pu menjadi rasa yang paling besar dalam diri mereka. olehnya, berusaha sambil berdoa adalah sebuah cara yang paling ampuh untuk  menggapai apa yang kita inginkan sebaba ketika kita berada pada titik di mana apa yang diinginka tidak tercapai maka kita akan mersa lega karena usaha telah kita lakukan dan doapun telah kita “panjatkan” ke sang Khaliq sehingga tiggalah proses tawakkal yang mengisi ruang kekecewaan dan kejenuhan tadi.

MAKA BERUSAHALAH DAN BERDOA. MEMANG SIH… SERING KITA DENGAR

TAPI SAYANG, TAK SERING KITA LAKUKAN…!!!

MAKA SEKARANGLAH WAKTUNYA

SAATNYA KEMBALI KE FITRAH

Posted: September 22, 2009 in Refleksi
Tag:

Assalamualaikum War. WAb.

Alhamdulillah Bisa Kembali Post tulisan Baru setelah beberapa waktu tidak sempat menulis kembali.

Rasa Syukur selalu terucap untuk Allah SWT  Tuhan semesta Alam atas segala nikmat yang telah diberikanNya kepada kita sehingga sampai dengan saat ini kita semua masih dapat beraktivitas sebagaimana mestinya.

Tak Terasa Bulan yang penuh Berkah ini pergi meniggalkan kita…. Namun terjawabkah sebuah pertanyaan yang menjdi tujuan kita untuk melakukan ibadah puasa di bulan ini, yakni menjadi orang yang bertaqwa….? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.

Hampir sebulan Penuh kita telah Berlatih untuk menahan Nafsu kita… Maka sebelas bulan mendatang adalah medan tempur yang akan kita lewati. Sudah cukupkah latihan yang kita lakukan pada bulan Ramadhan ini. Sehingga kita keluar menjadi orang-orang yang bertaqwa.

Semestinya, diri ini mulai berpikir apakah bulan-bulan puasa yang lalu yang telah kita lewati juga menjadikan kita orang yang bertaqwa. jika tidak maka bulan ini semestinya akan menjadikan kita sebagai orang yang bertaqwa.

Akhirnya, semoga kita senantiasa saling ingat mengingatkan, membantu dan tolong menolong dalam kebaikan sehingga  hidup penuh dengan kebaikan dan proses untuk mendapatkan ketaqwaan itu bisa tercapai. Amin…

For semua pembaca semoga Ibadah puasa Kita sebulan penuh diterima disisi Allah SWT. AMin….

ORANG MUKMIN TIDAK PERNAH STRES!!!

Posted: Juni 27, 2009 in salam
Tag:

Sebagai hamba Allah, dalam kehidupan di dunia manusia tidak akan luput dari berbagai cobaan, baik kesusahan maupun kesenangan, sebagai sunnatullah yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir. Allah Ta’ala berfirman,

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Qs Al Anbiya’: 35)

Ibnu Katsir –semoga Allah Ta’ala merahmatinya– berkata, “Makna ayat ini yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang beputus asa.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5/342, Cet Daru Thayyibah)

Kebahagiaan hidup dengan bertakwa kepada Allah

Allah Ta’ala dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan Hikmah-Nya yang Maha Sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan) hidup bagimu.” (Qs al-Anfaal: 24)

Ibnul Qayyim -semoga Allah Ta’ala merahmatinya- berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan yang bermanfaat hanyalah didapatkan dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang tidak memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, maka dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik). Meskipun dia memiliki kehidupan (seperti) hewan yang juga dimiliki oleh binatang yang paling hina (sekalipun). Maka kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya secara lahir maupun batin.” (Kitab Al Fawa-id, hal. 121, Cet. Muassasatu Ummil Qura’)

Inilah yang ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam banyak ayat al-Qur’an, di antaranya firman-Nya,َ

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُون

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs ِAn Nahl: 97)

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)” (Qs Huud: 3)

Dalam mengomentari ayat-ayat di atas, Ibnul Qayyim mengatakan, “Dalam ayat-ayat ini Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat.” (Al Waabilush Shayyib, hal. 67, Cet. Darul Kitaabil ‘Arabi)

Oleh karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan ibadah shalat, yang dirasakan sangat berat oleh orang-orang munafik, sebagai sumber kesejukan dan kesenangan hati, dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وجعلت قرة عيني في الصلاة

“Dan Allah menjadikan qurratul ‘ain bagiku pada (waktu aku melaksanakan) shalat.” (HR. Ahmad 3/128, An Nasa’i 7/61 dan imam-imam lainnya, dari Anas bin Malik, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ish Shagiir, hal. 544)

Makna qurratul ‘ain adalah sesuatu yang menyejukkan dan menyenangkan hati. (Lihat Fatul Qadiir, Asy Syaukaani, 4/129)

Sikap seorang mukmin dalam menghadapi masalah

Dikarenakan seorang mukmin dengan ketakwaannya kepada Allah Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, maka masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan karena keimanannya yang kuat kepada Allah Ta’ala sehingga membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allah Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya. Dengan keyakinannya ini Allah Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs At Taghaabun: 11)

Ibnu Katsir mengatakan, “Makna ayat ini: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, sehingga dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah tersebut, maka Allah akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Dia akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan yang lebih baik baginya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/137)

Inilah sikap seorang mukmin dalam menghadapi musibah yang menimpanya. Meskipun Allah Ta’ala dengan hikmah-Nya yang maha sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allah Ta’ala dalam mengahadapi musibah tersebut. Tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang mukmin.

Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allah senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut. Adapun orang-orang kafir, maka mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisab (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan). Sungguh Allah telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya,

وَلا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لا يَرْجُونَ

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (Qs An Nisaa’: 104)

Oleh karena itu, orang-orang mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan. Akan tetapi, orang-orang mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allah Ta’ala.” (Ighaatsatul Lahfan, hal. 421-422, Mawaaridul Amaan)

Hikmah cobaan

Di samping sebab-sebab yang kami sebutkan di atas, ada faktor lain yang tak kalah pentingnya dalam meringankan semua kesusahan yang dialami seorang mukmin dalam kehidupan di dunia, yaitu dengan dia merenungkan dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allah Ta’ala jadikan dalam setiap ketentuan yang diberlakukan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Karena dengan merenungkan hikmah-hikmah tersebut dengan seksama, seorang mukmin akan mengetahui dengan yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah justru untuk kebaikan bagi dirinya, dalam rangka menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allah Ta’ala.

Semua ini di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allah Ta’ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya. Dengan sikap ini Allah Ta’ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi:

أنا عند ظنّ عبدي بي

“Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepadaku.” (HSR al-Bukhari no. 7066 dan Muslim no. 2675)

Makna hadits ini: Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allah Ta’ala. (Lihat kitab Faidhul Qadiir, 2/312 dan Tuhfatul Ahwadzi, 7/53)

Di antara hikmah-hikmah yang agung tersebut adalah:

[Pertama]

Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya, yang kalau seandainya kotoran dan penyakit tersebut tidak dibersihkan maka dia akan celaka (karena dosa-dosanya), atau minimal berkurang pahala dan derajatnya di sisi Allah Ta’ala. Oleh karena itu, musibah dan cobaanlah yang membersihkan penyakit-penyakit itu, sehingga hamba tersebut akan meraih pahala yang sempurna dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan hal. 422, Mawaaridul Amaan). Inilah makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Orang yang paling banyak mendapatkan ujian/cobaan (di jalan Allah Ta’ala) adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan) dan orang-orang yang (kedudukannya) setelah mereka (dalam keimanan), (setiap) orang akan diuji sesuai dengan (kuat/lemahnya) agama (iman)nya, kalau agamanya kuat maka ujiannya pun akan (makin) besar, kalau agamanya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan (kelemahan) agamanya, dan akan terus-menerus ujian itu (Allah Ta’ala) timpakan kepada seorang hamba sampai (akhirnya) hamba tersebut berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak punya dosa (sedikitpun)” (HR At Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4023, Ibnu Hibban 7/160, Al Hakim 1/99 dan lain-lain, dishahihkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, Adz Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam Silsilatul Ahaadits Ash Shahihah, no. 143)

[Kedua]

Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang mukmin kepada-Nya, karena Allah Ta’ala mencintai hamba-Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan, hal. 424, Mawaaridul amaan) Inilah makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HSR Muslim no. 2999)

[Ketiga]

Allah Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allah Ta’ala sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Inilah keistimewaan surga yang menjadikannya sangat jauh berbeda dengan keadaan dunia, karena Allah menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hamba tersebut hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfan, hal. 423, Mawaaridul Amaan dan Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘Uluumi wal Hikam, hal. 461, Cet. Dar Ibni Hazm). Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل

“Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HSR Al Bukhari no. 6053)

Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim Al Buthoni, Lc.
Artikel www.muslim.or.id

Sikap Optimis Dapat memacu hidup lebih baik… bayangkan ketika seorang pasien yang diderita sebuah penyakit tidak mempuyai sikap optimis maka yang terjadi adalah harapan untuk sembuh itu akan sirna dikalahkan oleh sikap pesimis yang ada dalam dirinya…… Banyak kejadian nyata yang merenggut nyawa akibat kurangnya sikap optimis dalam hidup seseorang… dan kebanyakan yang berkenaan langsung pada kehidupan pribadi oarang tersebut. Mungkin Tulisan ini tak begitu menarik tapi untuk saya membaca hal-hal yang dapat membagkitkan motivasi itu perlu… karena otak ini bekerja selama 24 jam… untuk memproses segala sesuatu yang kita lihat, dengar, rasakan, dan akan diwujudkannya dalam bentuk perbuatan…..!!!!!!! Teringat Sebuah Kalimat yang menyatakan “jangan pernah pikirkan Gajah, tapi pikirkan Hidung gajah, telinga gajah, dan mulut gajah” Nah sekarang apa yang anda bayangkan… Saya Bisa menebak kalo yang anda bayangkan sekarang adalah gajah… He.. he… (salah Yah) Olehnya jangan pernah pikirkan hal-hal yang membuat diri anda menjadi orang yang pesimis terkecuali jika anda mengambil pelajaran dari apa yang anda pikirkan tersebut. Jadi… MOTIVASILAH DIRI anda untuk selalu berbuat kebaikan Sebab dalam hidup ini cuman ada dua pilihan untuk berbuat yakni BERBUAT KEBAIKAN atau BERBUAT KEBURUKAN. Maka ketika kita berbuat kebaikan, perbuatan yang buruk psati takkan kita kerjakan… Sebaliknya ketika kita tidak melakukan kebaikan maka pastilah keburukan yang akan kita perbuat…..

Kita mengetahui bahwa yang namanya kesulitan dan kemudahan adalah dua hal yang selalu menghiasi dan mewarnai kehidupan kita. Siapapun dari kita tentulah akan menemui kesulitan dalam kehidupannya. Akan tetapi, Banyak dari kita lebih menyukai kemudahan dibanding kesulitan. Saya rasa hal ini sangat wajar karena mana mungkin seseorang itu meghendaki suatu kesulitan dalam dirinya. Namun, dalam sering terlintas dalam pikiran kita bahwa yang namanya kesulitan ini adalah sebuah sosok mengerikan. Sehingga tak jarang jika kita lebih suka berlari sejauh mungkin darinya ketimbang mengenalnya lebih dekat dan bahkan tak jarang kita menghindarinya daripada untuk menyelesaikan kesulitan itu. Maka yang ada tambah sulit.. susah…bahkan jadi kacau…

Pahamilah dibalik setiap kesulitan tentu terdapat kemudahan. Karena
dengan kesulitan, banyak pelajaran hidup kita peroleh untuk lebih baik,
bertumbuhnya kreativitas dan inovasi dan melalui kesulitan kita akan berjuang untuk menghadapinya. Semakin sulit ia semakin menarik untuk kita raih. Apa artinya sesuatu hal yang didapatkan tanpa melalui perjuangan…. UNTUK ITU MARILAH selalu kita berusaha untuk mengatasi segala kesulitan yang ada dan sandarkan segala sesuatu hanya pada Rabbul Izzati ketika semua cara yang baik telah diupayakan.
untuk menutup tulisan ini marilah kita mencoba mentadaburi arti dari ayat di bawah ini.

sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.[94:Alam Nasyrah:6~8]

Assalamu alaikum. War. Wab

Pembaca yang Budiman. barangkali kita sering mendengar Kalimat  “Belajar Dari Kesalahan” . Namun pernahkah kita menarik sebuah pelajaran yang begitu berharga dari kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat.. ini adalah sebuah tanda tanya (?)  yang masing-masing dari diri kita harus menjawabnya. Ketika kita mulai terperosok dalam sebuah kesalahan bukankah disaat itu kita sudah mulai belajar bahwa kesalahan yang kita lakukan itu ada penyebabnya. lantas ketika kita mulai mengetahui penyebabnya itulah saatnya kita harus selalu berhati-hati untuk melakukan hal yang sama agar tidak terjadi kembali.

Silahkan anda menghindar dari sebuah kesalahan jika tak ingin berbuat kesalahan tapi jangan pernah mencoba untuk menghindar dari mempelajari kesalahan itu sendiri . Bukankah dengan melakukan sebuah kesalahan kita akan semakin tahu bahwa  betapa banyak kesalahan yang telah kita perbuat dan hal itu tentunya dapat menjadi sebuah bahan perenungan bagi kita untuk selalu mawas diri dalam menyikapi kehidupan kita. Saya dan anda tentunya sudah sering kali melakukan kesalahan-kesalahan namun apakah kesalahan yang kita lakukan ini pernah menjadi motivasi dalam hidup kita untuk melakukan hal yang lebih baik. Semua Jawaban kembali ke diri kita masing-masing.

Jngan pernah menyesali suatu perbuatan yang salah jika tak  dapat mengambil makna dari kesalahan yang diperbuat. Orang – orang yang belajar dari kesalahan, mereka akan terus berusaha untuk  tidak melakukan kesalahan yang sama dalam menjalani kehidupan ini, sehingga mereka akan semakin sadar bahwa sudah cukup sebuah kesalahan dilakukan dan tak perlu lagi mengulangi kesalahan yang sama. jika seandainya merekapun tetap melakukan kesalahan yang sama maka mereka akan selalu mencoba merenungi “mengapa mereka dapat melakukan kesalahan yang sama”.

Akhirnya,  Semoga kita terus belajar dari apa saja yang telah kita lakukan dengan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran terbaik untuk menata masa depan yang lebih baik dari sebuah perjalanan yang baik yang  kita lakukan  di masa sekarang.

Informasi manajemen biaya dikembangkan untuk digunakan dalam perusahaan guna membantu pihak manajemen , di mana fokus utama informasi manajemen biaya adalah kegunaan dan ketepatan waktu.

Informasi manajemen biaya bagi direktur keuangan (chief Financial Officer-CFO) dan para manjer lainnya digunakan dalam mengelola perusahaan dan membuat perusahaan lebih kompetitif dan sukses. Terdapat empat fungsi utama manajemen yakni, sebagai berikut :

1.  Manajemen Strategik

Merupakan pengembangan dari posisi kompetitif yang berkesinambungan sehingga keunggulan kompetitif dapat menyebabkan kesuksesan yang berkesinambungan. Adapun Strategi adalah seperangkat tujuan dan rencana tindakan yang spesifik, yang apabila dicapai akan memberikan suatu keunggulan kompetitif yang diharapkan.

2.   Perencanaan dan pengambilan keputusan

Meliputi penganggaran dan perencanaan laba, pengelolaan arus kas dan keputusan lain yang berkaitan dengan operasi perusahaan.

3.   Pengendalian manajemen dan operasional

Pengendalian manajemen nerupakan evaluasi terhadap para manajer tingkat menengah oleh manajer di atasnya.

Pengendalian operasional berlangsung ketika manajer tingkat menengah memeonitor aktivitas para manajer operasional dan para karyawan.

4.   Penyususunan laporan keuangan

Dalam menyusun laporan keuangan, manajemen harus mengikuti persyaratan pelaporan atau ketentuan yang berlaku, seperti PSAK.

Lingkungan bisnis kotemporer

Dalam Lingkungan bisnis tahun-tahun terakhir ini sangat berpengaruh penting pada modifikasi dalam praktek–praktek manajemen biaya. Perubahan-perubahan tersebut sebagai berikut :

1. Lingkungan bisnis global

Perkembangan penting yang mendorong perubahan yang meluas dalam lingkungn bisnis kontemporer adalah pertumbuhan pasar dan perdagangan internasional. Para manajer dan pemilik perusahaan paham akan pentingnya untuk mengejar penjualan dan aktivitas produksi di negara lain, juga untuk mengejar manfaat melakukan investasi. Meningkatnya persaingan di lingkuangan bisnis global mempunyai arti bahwa kebutuhan perusahaan terhadap informasi manajemen biaya semakin meningkat supaya mampu bersaing. Perusahaan membutuhkan informasi keuangan dan non keuangan tentang bagaimana melakukan bisnis dan bagaimana cara bersaing secara efektif.

2. Teknologi Produksi

Supaya dapat tetap kompetitif dalam menghadapi persaingan global yang semakin ketat, perusahaan di seluruh dunia menerapkan teknologi produksi yang baru. Sebagai contoh adalah penggunaan metode persediaan tepat waktu (Just in Time) untuk mengurangi biaya penyimpanan persediaan, dana penggunaan mesin berteknolgi tinggi.

3. Fokus pada pelanggan

Perubahan kunci dalam lingkungan bisnis adalah meningkatnya harapan pelanggan (customer expectation) terhadap fungsionalitas dan kualitas produk. Akibatnya siklus hidup produk (product life cycle) menjadi lebih pendek, sehingga perusahaan berusaha untuk menambah model baru dan produk baru secepat mungkin.

4. Penggunaan Teknologi Informasi

Perubahan bisnis yang paling menigkat akhir tahun ini adalah penggunaan teknologi informasi yang  semakin menigkat, seperti internet, dan e-commerce. Teknologi ini telah membantu perkembangan focus strategi pada manajemen biaya dengan mengurangi waktu yang dibuthkan untuk memproses transaksi dan memperluas akses manajer individu atas informasidalam perusahaan,industri maupun lingkungan bisnis lainnya.

5. Organisasi manajemen

Organisasi manajemen telah telah berubah dalam merespon perubahan pemasaran dan produksi, karena fokusnya adalah kepuasan pelanggan, maka tekanannya telah berubah dari ukuran kinerja yang bersifat keuangan dan berbasis laba menjadi ukuran kinerja yang berorientasi pada pelanggan, bersifat non keuangan, seperti kualitas dan pelayanan.

6. Pertimbangan-pertimbangan social, politik dan budaya

Di samping perubahan-perubahan yang ada pada lingkungan bisnis, perubahan signifikan juga terjadi pada perubahan lingungan social, politik dan udaya yang mempengaruhi bisnis. Konsekuensi dari adanya lingkungan yang baru adalah meningkatkan kebutuhan perusahaan untuk lebih fleksibel dan adaptif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi.

TEKNIK MANAJEMEN KONTEMPORER

Para manajer menggunakan teknik berikut ini untuk mengimplementasikan strategi perusahaan untuk mencapai keberhasilan. Teknik- teknik itu adalah :

1.  Penentuan Tolok Ukur (Benchmarking)

merupakan proses di mana perusahaan mengidentifikasikan factor keberhasilan (critical Succes factors-CSF), mempelajari tentang prkatek-praktek terbaik yang dilakukan oleh perusahaan lain untuk menemukan CSF ini dan kemudian melakukan perbaikan-perbaikan dalam proses perusahaan untuk mencapai kinerja yang sama bahkan lebih baik dengan para pesaiangnya.

2. Manajeman Kualitas total (Total Quality Management)

TQM merupakan teknik di mana manajemen mengembangkan kebijakan-kebijakan dan praktek-praktek untuk meyakinkan bahwa produk dan jasa perusahaan memenuhi harapan pelanggan. Pendekatan ini meliputi peningkatan fungsionalitas produk, kehandalan, ketahanan, dankemudahan produk untuk diperbaiki.

3. Perbaikan Berkelanjutan (Continous Improvement)

Continous Improvement (dalam bahasa jepang disebut kaizen) merupakan teknik manajemen di mana para manajer dan pekerja mempunyai komitmen terhadap program perbaikan terus menerus dalam hal kualitas dan faktor keberhasilan.

4. Activity-Based Costing dan Activity-Based Management

Banyak perusahaan dapat memperbaiki perencanaan, penentuan harga pokok produk, pengendalian operasional dan pengendalian manajemen dengan menggunakan analisis aktivitas untuk mengembangkan gambaran rinci tentang aktivitas spesifik yang dilakukan dalam operasi perusahaan. Activity-based costing digunakan untuk meningkatkan akurasi analisis biaya dengan memperbaiki cara penelusuran biaya ke objek biaya. Activity based management menggunakan analisis aktivitas untuk meningkatkan pengendalian operasional dan pengendalian manajemen.

5.  Perekayasaan Ulang  (Reengineering)

Reengineering merupakan proses untuk menciptakan keunggulan kompettitif di mana perusahaan mengorganisasikan kembali fungsi organisasi dan manajemennya, seringkali juga menghasilkan pesanan/pekerjaan yang sudah dimodifikasi, digabungkan atau dihilangkan.

6. Teori Kendala

The Theory of Constraint (teori kendala) merupakan teknik stratejik untuk membantu perusahaan untuk mengubah bahan menjadi produk secara efektif meningkatkan facto keberhasilan.konsep utama dalam TOC adalah throughput, yaitu kemampuan perusahaan untuk menghasilkan kas melalui penjualan atau sama dengan penjualan dikurangi bahan yang dibutuhkan dalam produk yang terjual. Throughput dapat diperbaiki secara langsung dengan meningkatkan kecepatan produk diproses sampai dengan dijual.

7. Kostumisasi massal

Kostumisasi massal merupakan teknik manajemen di mana pemasaran dan proses produksi dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menangani meningkatnya variasi yang timbul dari pengiriman produk pesanan dan jasa kepada pelanggan.

8. Perhitungan Biaya Berdasarkan Target (Target Costing)

Target Costing merupakan teknik manajemen yang menentukan biaya yang diharapkan untuk suatu produk berdasarkan harga yang kompetitif, sehingga produk tersebut akan dapat memperoleh laba yang diharapkan. Jadi biaya ditentukan oleh harga.

9. Life Cycle Costing Life Cycle Costing

Merupakan teknik manajemen yang digunakan untuk mengidentifikasikan dan memonitor biaya produk selama siklus hidup produk. Siklus hidup produk meliputi tahap-tahap : Riset dan pengembangan, Perancangan produk termasuk membuat prototype dan pengujian, Produksi/pembuatan, inspeksi, pengepakan dan penggudangan, Pemasaran, promosi dan distribusi,serta Penjualan dan pelayanan.

10. Sistem Just In time

Merupakan system manajemen Produksi dan Persaediaan yang komperhensif di mana pembelian atau pemrosesan bahan baku dan bagian-bagian lainnya hanya dilakukan ketika dibutuhkan dan tepat pada saat akan digunakan pada setiap tahap proses produksi.

11. The Balanced Scorecard

Untuk menekankan pada pentingnya pengguanaan informasi, baik yang bersifat keuangan maupun non keuangan, sekarang seringkali akuntansi melaporkan kinerja perusahaan berdasarkan factor-faktor keberhasilan dalam empat dimensi, yaitu :

Kinerja keuangan

Mengukur profiabilitas di antara perusahaan-perusahaan lain, sebagai indicator seberapa baik perusahaan memuaskan pemilik dan pemegang saham.

Kepuasan pelanggan

Kepuasan mengukur kualitas, pelayanan dan rendahnya biaya dibandingkan dengan perusahaan lain sebagai indicator seberapa baik perusahaan memuaskan pelanggan.

Proses bisnis internal

Mengukur efisiensi dan efektifitas perusahaan dalam produksi dalam memoduksi produk dan jasa.

Inovasi dan pembelajaran

Mengukur kemampuan perusahaan untuk mengembangkan dan memanfaatkan sumber daya manusia sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai untuk waktu sekarang dan masa yang akan datang.